Sebuah Cerita Pendek, yang Kenyataannya Panjang Mari kembali pada hari Jum'at, 3 Augustus 2018 lalu. Kala itu, adalah awal kita bertemu kembali. Memulai keakraban lagi. Rasanya sedikit tidak percaya. Setelah banyak ketidakmungkinan yang saya kira. Tanpa sadar setelah hari itu pula, kamu mulai masuk disatu dari sekian banyak do'a yang saya panjatkan pada Tuhan. Entahlah memang skenario Tuhan tak dapat dipahami nalar. Saya tau jiwamu masih sakit dan ingin merangkak pulih. Saya yakini hati kecil mu pun berniat menjadi dirimu yang lebih baik. Seiring berjalannya waktu, banyak penerimaan yang saya sepakati. Banyak pertanyaan yang mengendap. Banyak hal mudah menjadi tak terarah. Semakin lama semakin rumit. Salah saya. Saya yang salah. Tidak dapat menyelami setiap sisimu. Tidak dapat mendalami semua inginmu. Tapi tunggu, saya sendiri pun bahkan tidak dapat menyelami diri saya sendiri ternyata. Sangat menyedihkan, tapi orang lain tak akan paham. Saya berusaha ingin membahagiaka...
Kalau kita mendengar kata “pahlawan” otomatis yang tergambar dalam pikiran kita secara reflek adalah seseorang yang sedang membawa senjata menuju ke medan perang. Apalagi bila kita menyebutnya dengan kata pahlawan kemerdekaan. Karena kemerdekaan Negara kita kita rebut bukan hanya sekedar melalui diplomasi semata tapi terlebih adalah telah melalui serangkaian perjalanan panjang perlawanan perang yang cukup berdarah-darah. Namun dalam kontek masa kini pahlawan sudah bermakna lain, bukan lagi seseorang yang membawa senjata menuju medan perang akan tetapi seseorang yang dengan pemikiran-pemikiran barunya mampu menerobos situasi yang “mandeg” dan tidak ada yang bersedia melakukan perubahan meskipun sebenarnya menginginnya, sebuah situasi yang kadang juga “rumit” karena justru yang akan melakukan perubahan yang sebenarnya juga diinginkan oleh orang banyak itu, justru akan dicurigai bahkan kadang dicibir. Maka benar apa kata seorang bijak di negeri kita, bahwa perjuangan ki...
DERAI DERAI CEMARA cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah PUISI KEHIDUPAN Hari hari lewat, pelan tapi pasti Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru Karena aku akan membuka lembaran baru Untuk sisa jatah umurku yang baru Daun gugur satu-satu Semua terjadi karena ijin Allah Umurku bertambah satu-satu Semua terjadi karena ijin Allah Tapi… coba aku tengok kebelakang Ternyata aku masih banyak berhutang Ya, berhutang pada diriku Karena ibadahku masih pas-pasan Kuraba dahiku Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk Kutimbang keinginanku…. Hmm… masih lebih besar duniawiku Ya Allah ...
Komentar
Posting Komentar